OLEH: M FAIDUL AKBAR
JURNAL : Tursina akademik, GEBRAK
A.Pengertian Eskatologi
Eskatologi adalah istilah Bahasa Indonesia yang diserap dari kata Bahasa Inggris “eschatology”. Secara lesikal, ia berasal dari kata Yunani eskhatos “yang berarti hal-hal yang terakhir (the last) ” dan logos “ yang mempunyai arti pengetahuan”. Kata eschaton digunakan dalam Bahasa Yunani untuk menyebut sebuah “akhir”, Dengan demikian, ia berarti suatu pengetahuan tentang akhir dari sesuatu. Secara operasional, kata ini mulai digunakan semenjak pertengahan abad ke-19. Secara terminologis, eskatologi sendiri merupakan salah satu cabang kajian dari teologi yang membahas kecamuk hari akhir dan beberapa tema terkait seperti kematian, hari pembalasan, hari kebangkitan dan lain sebagainya.[ www.oxforddictionaries.com, dan www.meriam-webster.com, diakses tanggal 02 Februari 2015.] Menurut Giacoo Biffi, eskatologi merupakan suatu permasalahan manusia yang tidak memilik solusi yang manusiawi.[ Eschatology: a human problem without a human solution. Lihat Paul O. Callaghan, Christ Our Hope: An Introduction to Eschatology, …, hlm. 3.] Hal ini mengingat bahwa eskatologi berkaitan dengan segala hal yang bersifat metafisik dan futuristik. Oleh karenanya, sebagaimana telah dikatakan bahwa basis utama dari eskatologi sepenuhnya berdiri kokoh di atas harapan (the hope). Rahman berpendapat bahwa kajian tentang eskatologi secara umum adalah berbicara tentang kenikmatan surga dan siksa neraka.[Fazlur Rahman, Major Themes Of The Qur’an, terj. Anas Wahyudin, Tema-Pokok Al-Qur’an, (Bandung, Pustaka: 1996), hlm. 154.]
Menurut Eliade, eskatologi termasuk bagian dari agama dan filsafat yang menguraikan secara runtut semua persoalan dan pengetahuan tentang akhir zaman, seperti kematian, alam kubur (barzakh), kehidupan surga dan neraka, hukuman bagi yang berdosa, pahala bagi yang berbuat baik, hari kebangkitan, pengadilan pada hari itu dan sebagainya”.[ Mircae Eliade (ed). “Eschatology”, The Encyclopedia of Religion, (New York: Macmillan Publishing Company, 1987). hlm. 152-153.
] Adapun menurut Izutsu konsep eskatologi dalam al-Qur’an adalah terkait transisi antara dua alam, yaitu dunia dan akhirat.[ Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, terj. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003), hlm. 94.] Sementara menurut Kholid Al-Walid, eskatologi dapat dipahami sebagai sebuah doktrin yang membicarakan tentang keyakinan yang berhubungan dengan kajadian-kejadian akhir hidup manusia, seperti kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, kebangkitan kembali, pengadilan akhir, syurga neraka dan lain sebagainya.[Kholid Al-Walid, Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat; Filsafat Eskatologi Mulla Shadra, (Jakarta: Shadra Press, 2012), Hlm. Xxvii.]
Pembahasan eskatologi juga bersinggungan dengan masalah soteriologi yang merupakan salah satu sub-kajian dari eskatologi. Soteriologi merupakan bagian dari ilmu teologi yang membahas tentang doktrin keselamatan.[Soteriologi berasal dari bahasa Yunani, soteria (keselamatan/salvation) dan logos (ilmu), diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi soteriology. Dalam Oxford Dictionary soteriology berarti: ”the doctrine of salvation”(suatu doktrin tentang keselamatan). Istilah ini muncul pada pertengahan abad 19 M. www.oxforddctionaries.com, diakses tanggal 02 Februari 2015.] Setiap agama memiliki soteriologi masing-masing. Ia berkisar pada beberapa pertanyaan mendasar; from what, how and to what is a person saved? (dari apa, bagaimana dan kepada apa seseorang akan diselamatkan?).[ Jan G. Van der Watt, Salvation in The Gospel According to John, dalam Jan G. Van der Watt (Ed.), Salvation in The New Testament, (Leiden: Brill, 2005), hlm. 101] Biasanya, keselamatan (salvation) dikontraskan dengan kutukan/kecelakaan (damnation). Konsep surga dan neraka yang ada di setiap agama dengan kemasan yang berbeda merupakan salah satu inti pembahasan soteriologi. Apa yang harus dilakukan agar kelak bisa selamat dan tidak celaka ? Pertanyaan semacam ini merupakan basis dari persoalan soterologi. Dengan demikian, secara manual, persoalan eskatologi yang penulis maksudkan dalam penelitian ini prinsip eskatologi yang dirumuskan oleh izutsu yaitu antara akhir dunia dan akhirat yang mencakup empat tema pokok: kebangkitan, pembalasan, surga dan neraka.[ Neal Deroo dan John Manaossakis (ed.), Eschatology and Phenomenology, (Ashagate, 2009), hlm. 1
]
Dalam Islam eskatologi sering disebut juga dengan istilah al-Samiyyat, yang secara leksikal diterjemahkan dengan segala sesuatu yang hanyabisa didengarkan. Sedangkan dalam akidah istilah al-Samiyyat dapat diartikan dengan segala hal yang tidak dapat dicapai dengan akal semata-mata, namun hanya dapat diketahui dari keterangan yang diterima dari sumber itu sendiri.
Menurut pandangan Hasan hanafi, al-Samiyyat bukanlah sesuatu yang metafisis saja, tetapi sesuatu yang dihubungkan kepada konsep Ilahiyah, yang mana masalah tersebut ada kesinambungannya dengan Tuhan. Hanafi berpendapat bahwa masalah Ilahiyat dan Samiyyat pada mulanya merupakan suatu disiplin keilmuan yang sama (setara), dan hal ini terus berlanjut hingga sekarang dalam pemikiran kontemporer kita. Lebih lanjut Hanafi menandaskan bahwa Sam’iyyat mencakup tentang kenabian, jiwa yang terfikir, peristiwa kiamat, dan imamah.[ Hasan Hanafi, Dari Akidah ke Revolusi: Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama, terj. Asep Usman Ismail, Suadi Putra, Abdul Rauf, (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm. 72-73.]
B.Wacana Eskatologi dalam Pemikiran Islam
Diskursus tentang eskatologi merupakan tema besar tetapi belum banyak yang concern mengurainya lebih dalam. Selain isu yang diangkat terkesan statis, eskatologi merupakan “ajaran” yang berasal dari tradisi agama, yang dalam frame pemikiran filsafat kurang mendapat respon tidak sebagai mana persoalan Tuhan dan manusia. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada studi tentang hal ini. Di dalam disiplin keilmuan di Eropa, eskatologi menempati salah satu “kapling” filsafat agama, sementara dalam dunia Islam telah menjadi salah isu pokok dalam pesan al-Qur’an yang dikaji dari berbagai perspektif: kalam, tafsir, filsafat, dan tasawuf oleh ulama-ulama Islam. Pada gilirannya kajian tentang eskatologi lebih terkonsentrasi pada dua wilayah kajian ilmiah Islam, yaitu Ilmu Kalam dan Filsafat.
Dalam Ilmu Kalam pembicaraan pada umumnya berkisar pada argumentasi tentang kebangkitan, Kematian, Barzakh, Surga-Neraka, Kebahagiaan dan penderitaan, Keabadian di akhirat, Kebangkitan jasmani dan Syafa’at. Sedangkan pada filsafat, pembicaraan tentang kebangkitan meliputi ruang yang lebih luas, bukan hanya dalam persoalan yang telah disebutkan di atas, akan tetapi juga meliputi masalah ruh, jiwa dan jasmani, bentuk keterikatan antara ruh, jiwa dan jasmani, kemustahilan kebangkitan setelah ketiadaan dan sebagainya.[ Kholid Al-Walid, Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat; Filsafat Eskatologi Mulla Shadra, (Jakarta: Shadra Press, 2012), hlm. Xxix.]
Filsafat dan Kalam menjadi dua khazanah Islam yang cukup signifikan dalam menopang peradaban Islam, tidak jarang argumentasi filosofis digunakan Kalam dalam upaya membuktikan kebenaran doktrin-doktrin Islam, tidak jarang pula filsafat khususnya filsafat Islam mendapatkan inspirasi dari ilmu Kalam dalam menjawab persoalan filsafat. Akan tetapi kedua cabang ilmu ini seringkali melahirkan dua kebenaran yang berbeda, dan tentu saja pada akhirnya menimbulkan konflik. Para teolog tentu beranggapan bahwa kebenaran yang bertentangan dengan doktrin doktrin wahyu adalah kesesatan sedangkan Filosof beranggapan bahwa kebenaran yang tidak rasional perlu diinterpretasi ulang. Dua khazanah ilmiah yang berbeda ini pada satu masa mengalami benturan yang cukup dahsyat terutama dalam membicarakan persoalan eskatologi.
Dalam konteks akhir dunia, pembahasan eskatologi Islam tertuju pada konsep mengenai kiamat. Namun sebelum kiamat ini, dikenal pula sosok-sosok eskatologi Islam, yaitu: Ya’juj dan Ma’juj, Imam Mahdi, Dajjal, dan Isa As. Sedangkan dalam konteks akhirat, pembahasannya tertuju pada konsep Hari Kebangkitan, konsep Pengadilan, serta konsep Surga dan Neraka. Setelah melihat gambaran di atas penulis menggambarkan beberapa aspek eskatologi Islam, yang mana dilihat dari proses untuk menuju ke alam Akhirat: (1). Kematian, (2). Alam Antara (Barzakh), (3). Kembangkitan Kembali, (4). Surga dan Neraka.
Jika ditinjau dari perspektip kesejarahannya, kepercayaan eskatologis (ke-Akhiratan: proses kematian hingga kebangkitan) nampaknya disinyalir telah ada pada zaman yang dahulu sekali. Dikatakan bahwa orang Mesir adalah yang pertama mengenal ajaran tentang hidup di Akhirat, atau sedikitnya, mendasarkan prinsip-prinsip tingkah laku manusia pada ajaran yang demikian. Gagasan tentang perpindahan jiwa digabungkan mereka dengan gagasan tentang pemberian ganjaran dan hukuman di akhirat. Manusia masuk ke kubur hanya untuk kemudian bangkit kembali. Sesudah hidup kembali ia masuk kehidupan baru, berkawan dengan matahari. Jiwa manusia dianggap kekal dan seperti matahari dan menunaikan perjalanan ziarah yang sama. Orang mati akan diadili oleh dewa Orisis dan empat puluh dua pembantunya. Orang yang dianggap bersalah mengalami nasib dimusnahkan. Orang yang baik, dibersihkan dari dosa yang ringan,
mendapat kebahagiaan yang sempurna dan sebagai kawan Orisis, mereka diberi makanan yang lezat oleh dewa itu.
Secara wajarnya kita dapat mengira-ngirakan bahwa orang-orang Israil yang lama tinggal di Mesir itu, memasukkan tanggapan di kalangan penduduk mengenai hidup di Akhirat disertai gagasan tentang ganjaran dan hukuman. Ajaran Kebangkitan Kembali dengan gagasan-gagasan yang timbul dari padanya yang nampak dalam agama Yahudi kemudian (terutama dalam kitab Daniel dan Yahezkel), rupanya suatu hasil pertumbuhan asing yang diambil dari sumber-sumber Zoroaster.14 Dan disinyalir bahwa ajaran Zoroaster adalah ajaran eskatologi tertua dalam sejarah yang tertulis, ajaran yang merasuk ke dalam kepercayaan-kepercayan dan agama Samawi, tetapi bahwasanya kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama Samawi mempunyai ciri keilmuannya sendiri-sendiri yang membentuk sebuah karekter bagi penganutnya. Seperti halnya; gagasan utama dan terkemuka dalam Islam mengenai kehuidupan di akhirat, berdasartkan kepercayaan bahwa, dalam hidup sesudah mati, tiap makhluk manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, baik laki-laki maupun perempuan, dan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan setiap orang akan tergantung kepada caranya ia telah melaksanakan perintah-perintah-Nya. Inilah intisari ajaran Islam tentang kehidupan di akhurat dan inilah satu-satunya ajaran yang wajib dipercayai dan diterima. Segala unsur lain yang disesuaikan, yang diambil dari tradisi yag beredar di kalangan bangsa-bangsa di masa itu hanya tambahan belaka.
C.Konsep Eskatologi Dalam Al-Qur`an
Salah satu dari dua ajaran dasar yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad pada periode awal kenabiannya adalah ke-esa-an Allah dan keimanan terhadap hari akhir. Mayoritas tema akidah dalam surat surat makkiyyah (surat yang diturunkan pra-hijrah ke Madinah) adalah seputar ke-esa-an Tuhan dan keimanan terhadap adanya hari akhir. Mereka yang berhak mendapatkan taman surga Firdaus adalah orang yang meyakini ke-esa-an Tuhan. Dalam hal ini, persoalan eskatologi dalam perspektif Islam menempati posisi yang utama seperti halnya permasalahan tauhid.
Dalam Islam, persoalan eskatologi pada awalnya berkaitan erat dengan relasi antara kehidupan saat ini (al-dunya) dengan kehidupan selanjutnya (al-akhirat). Terdapat relasi pertanggungjawaban etis di antara keduanya.[ Jane I. Smith, “Eschatology”, dalam Janne Dammen McAuliffe, Encyclopedia of The Qur’an, (Leiden: Brill, 2009), hlm. 44] Kehidupan akhirat ditentukan oleh amal perbuatan di dunia saat ini. Meski demikian, keduanya memiliki karakter yang distingtif, kehidupan dunia hanya merupakan senda gurau belaka, sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Ali ‘Imran: 185:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Sementara kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, sebagaimana termuat dalam QS. Al-An’am: 32:
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya”
Dengan demikian, salah satu titik tekan dalam dakwah Nabi Muhammad adalah keimanan akan hari kebangkitan setelah mati, di mana manusia dibangkitkan setelah ia hancur menjadi tulang belulang (QS. Al-Isra: 98-99).[
“Itulah Balasan bagi mereka, karena Sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: "Apakah bila Kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, Apakah Kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.”
] Konsep ini merupakan suatu hal yang benar benar tidak dikenal sebelumnya dalam masyarakat pagan Arab ketika itu.
Konfrontasi Islam dengan tradisi agama sebelumnya memang turut mempengaruhi pembentukan beberapa narasi dalam ajaran Islam, termasuk dalam hal eskatologi. Beberapa ayat Al Qur’an secara langsung berkonfrontasi dengan beberapa agama lain ketika menjelaskan ajaran soteriologi. Hal ini misalnya terlihat ketika Al-Qur’an merekam beberapa perdebatan antar pemeluk agama terkait siapa yang akan mendapatkan keselamatan. Dalam Al-Baqarah: 111 dan 113, misalnya, dijelaskan tentang perdebatan antara kaum Yahudi dan Nasrani yang saling mengejek bahwa mereka tidak punya pegangan.
dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".
dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," .....
Kedua ayat di atas menjelaskan cuplikan percaturan soteriologis antara Islam dan kedua pendahulunya, Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana diketahui, ketika itu, Nabi secara langsung berkonfrontasi secara domestik dengan beberapa etnis Kristen dan Yahudi di semenanjung Arab dan juga dengan rezim Bizantium di Romawi dan Sasanian di Persia secara geopolitik.[ Taufik Adnan Kamal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2011), hlm. 11-13
] Bani Quraizhah di Madinah misalnya, merupakan etnis Yahudi berdarah biru yang ada pada masa Nabi, sedangkan di Najran, kawasan Arab selatan, terdapat komunitas Kristen yang juga tercatat memiliki kontak dengan Nabi.[ Orientasi teologis dari komunitas Kristen di Najran tidak dapat dipastikan dengan jelas. Sebagian mengatakan bahwa komunitas Kristen di Najran adalah sekte Nestorian. Hal ini mengingat adanya catatan sejarah yang mengaakan bahwa para missionaris Nestorian yang hendak berlayar ke India menjadikan kawasan semenanjung Arab selatan dan Persia sebagai tempat persinggahan. Lihat Clare Wilde dan Janne Dammen Mc Auliffe, “Religious Pluralism”, dalam Janne Dammen McAuliffe, (Leiden: Brill, 2009), vol. 4, hlm. 411
] Selain dua ayat di atas terdapat juga ayat yang secara langsung melibatkan ketiga agama sekaligus (Al Nisa: 123-125):
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah“.
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya
Dalam Tafsir Al-Thabari (w. 923 M.), dijelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beberapa kelompok agama (Islam, Yahudi, dan Nasrani) yang bertengkar dan saling mengklaim kebenaran agama masing-masing. Dalam pertengkaran soteriologis tersebut Allah menghimbau ketiga agama agar tidak terjebak dalam sikap keberagamaann yang hanya sekedar angan angan (amany) belaka:
Diriwayatkan bahwa sekelompok orang Yahudi dan Nasrani bertemu, orang-orang Yahudi berkata kepada orang Islam: “kami lebih baik dari kalian, agama kita ada sebelum agama kalian, dan kitab kami ada sebelum kitab kalian, dan Nabi kita ada sebelum Nabi kalian. Dan kami berpegang teguh pada agama Ibrahim dan sesekali tidak akan masuk surga kecuali hanya orang Yahudi”. Kemudian orang Nasrani berkata hal yang sama. Lalu orang Islam berkata: “kitab kami ada setelah kitab kalian, Nabi kami ada setelah Nabi kalian, dan sungguh kalian telah diperintahkan untuk mengikuti kami dan meninggalkan agama kalian, maka kami lebih baik dari kalian, kami berpegang pada agama Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, dan sesekali tidak akan masuk surga kecuali orang yang berpegang pada agama kami. Kemudian Allah menyanggah perkataan-perkataan mereka dan berfirman: “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab ...“ dst., “[ Ibnu Jarir At-Thabary, Tafsir Thabari, (Dar al-Hijr: Markaz al-Buhuts wa al-Dirasah al-Islamiyah al-Arabiyyah, tanpa tahun), juz. 7, hlm. 508-509.]
Salah satu persoalan selanjutnya yang harus disebutkan di sini adalah keadaan geografis masyarakat Arab ketika masa Nabi dan pengaruhnya yang sangat signifikan dalam pembentukan narasi eskatologis dalam Al Qur’an. Secara umum, kajian geografis masyarakat Arab berkisar pada kajian atas keadaan geografis semenanjung Arab secara umum (Jazirat al-‘Arab), khususnya kawasan yang sekarang dikenal sebagai Negara Saudi Arabia. Dalam perspektif geografis, kawasan Saudi Arabia berada pada lokasi koordinat 15°LU – 32°LU dan antara 34°BT – 57°BT. Secara topografis, ia merupakan kawasan tandus yang mayoritas kawasannya tertutupi gurun pasir dan beberapa jajaran pegunungan. Sampai saat ini, salah satu isu utama yang tetap relevan di Arab Saudi adalah minimnya sumber air (depletion of ground water resources).[
Lihat “Geography of Saudi Arabia”, dalam www.wikipedia.org, diakses 13 Februari 2015
]
Kondisi topografis Hijaz (Mekkah-Madinah) pada abad ke-7 M., ketika Al Qur’an diwahyukan digambarkan sebagai jajaran pegunungan yang terbentang di sepanjang kawasan barat semenanjung Arab. Meski secara aplikatif memang problematis, rekayasa topografis Hijaz di abad ke-7 bisa dideskripsikan sebagai berikut; sebelah utara berbatasan dengan kawasan Syiria, sebelah barat daya berbatasan dengan dataran tinggi ‘Ashir yang memisahkannya dengan Yaman, sebelah barat berbatasan dengan dataran rendah laut merah yang dikenal dengan Tihamah, dan di sebelah timur tersambung dengan dataran tinggi Najd. Frekuensi turun hujan di Hijaz sangat tidak memadai. Air hanya tersimpan di segelintir kawasan tanah lempung yang memungkinkan adanya suatu kehidupan pedesaan di dalamnya. Yatsrib (nama kuno Madinah) dan Ta’if merupakan kawasan yang paling terkemuka ketika itu.[ Lihat Angelika Neurwith, “Geography”, dalam Janne Dammen McAuliffe, Encyclopedia of The Qur’an, (Leiden: Brill, 2009), vol. 2, hlm. 294.] Dari konteks topografis inilah kemudian beberapa narasi eskatologis Al Qur’an akan muncul.
Dalam banyak tempat, Al Qur’an menggambarkan surga sebagai suatu tempat yang menjadi impian sekaligus utopis bagi masyarakat dengan kondisi topografis di atas. Surga digambarkan sebagai sebuah taman (jannah) yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalir. Perhatikanlah beberapa contoh narasi berikut:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah: 25)
Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (Ali Imran: 198)
Dua ayat di atas merefleksikan bagaimana narasi eskatologis dikemas dalam satu tuturan yang sangat akomodatif dan kontekstual dengan keadaan masyarakat Arab ketika itu. Gambaran surga sebagai sebuah taman yang di dalamnya terdapat sungai yang mengalir jelas memiliki referensi terhadap kondisi topografis di atas. Bagi orang yang lahir di padang pasir, taman yang penuh dengan oase, sungai, dan buah buahan merupakan suatu tempat impian. Dengan demikian, terlihat jelas bagaimana Al-Qur’an menjelaskan surga dengan satu tempat impian yang sama sekali tidak dialami oleh masyarakat Arab ketika itu. Narasi taman yang dipenuhi dengan “buah bahan” juga merefleksikan surga sebagai satu tempat di mana manusia tidak harus repot repot menggantungkan hidupnya kepada agrikultur. Di surga, keadaan akan menjadi sangat berbeda dengan kehidupan yang serba tandus di semenanjung Arab.
Al-Qur’an memang sarat dengan nilai-nilai eskatologis. Kalau ditelusuri dengan cermat, maka “sekitar sepertiga dari keseluruhan isi al-Qur’an memuat ajaran tentang eskatologi”. Setiap pembicaraan tentang amal manusia senantiasa ditutup dengan balasannya di hari kiamat nanti. Perkataan surga dan neraka, pahala dan dosa, kesenangan dan siksaan selalu diulang-ulang di hampir semua surat. Hal ini menunjukan bahwa persoalan eskatologis dalam Islam merupakan hal yang sangat penting. Kehilangan inilai eskatologis tidak hanya dapat menjauhkan seseorang dari agama tetapi juga dapat menjerumuskannya kepada kekufuran dan kezaliman. Karena pentingnya persoalan eskatologi ini, al-Qur’an di banyak tempat menyebutkan pesan-pesan tentang akhir segala sesuatu. Surat-surat Makkiyah terutama Juz ‘Amma umumnya mengandung pesan-pesan ini. Hal ini dimaksudkan agar manusia sebelum mengamalkan ajaran agama, ia terlebih dahulu mempunyai motivasi untuk melakukannya karean setiap apa yang dilakukan itu akan diberikan balasan. Kemudian, keyakinan kepada hari akhir menjadi bagian yang paling esensial dalam beragama. Bahkan dalam al-Qur’an senantiasa digandengkan “beriman kepada Allah dan hari kiamat”.
Penggandengan ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi suatu ketetapan yang dirumuskan oleh Allah sendiri. Ini menunjukan betapa eratnya kaitan antara beriman kepada Allah dan meyakini dengan sesungguhnya hari akhir itu pasti terjadi. Dengan demikan manusia akan sangat hati-hati dalam melakukan sesuatu, karena apa yang dikerjakannya pasti Allah melihatnya dan dengan sendirinya ia menyadari bahwa kalau Allah sudah melihat, maka perbuatannya itu akan diberikan balasan. Balasan itu pun sangat tergantung pada kualitas amal, yang baik diberi pahala kesenagan surgawi. Sedang amal yang jelek akan diberi azab hukuman neraka. Yang menarik dari keterangan al-Qur’an tentang eskatologi menurut Amsal Bakhtiar adalah kerincian penjelasannya. Dibandingkan dengan persoalan ibadah individual seperti shalat dan zakat, keterangan tentang hari akhirat jauh lebih terperinci.17” Hal ini mungkin karena pengetahuan manusia tentang alam metafisika sangat terbatas. Terlebih, ijtihad dalam lapangan ini membutuhkan keahlian khusus, dan kalu salah berijtihad akan berakibat fatal karena hal ini berkaitan dengan akidah. Kenyataan ini menggambarkan sekaligus mempertegas bahwa persoalan eskatologi adalah bagian yang rumit dan tidak terpisahkan dari Islam dan kehidupan manusia. Manusia pada dasarnya memiliki naluri takut mati karena telah mengetahui apa yang ada dan bagaimana setelah mati. Karena itu, agama menjelaskan persoalan yang sangat misterius ini, sehingga orang yang beragama menjadi lebih tenang dibandingkan dengan orang tidak beragama.
Dalam eskatologi islam, permasalahan yang menjadi pembahasan para pemikir Islam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang pernah timbul pada pemikiran eskatologi sebelum Islam, terutama Yahudi dan Kristen. Ada pun permasalahan-permasalahan dalam eskatologi Islam antara lain : kematian, alam kubur, hari kiamat dan kebangkitan kembali, berkumpul di mahsyar, penghitungan dan pertimbangan amal, pembalasan dan hukuman. Berikut penulis akan menjelaskan beberapa hal tersebut secara singkat
Fazlur Rahman mengatakan bahwa gambaran umum mengenai eskatologi dalam al-Qur’an adalah kenikmatan sorga dan azab neraka. Surga dan neraka ini sering dinyatakan al-Qur’an sebagai imbalan dan hukuman secara global, termasuk keridhaan dan kemurkaan Allah. Namun, ide pokok yang mendasari ajaran-ajaran al-Qur’an mengenai akhirat adalah gambaran tentang kiamat ketika setiap manusia akan memperoleh kesadaran unik yang tak pernah dialami sebelumnya dari perbuatan baik dan buruknya. Pada saat ini manusia dihadapkan kepada apa yang telah dilakukannya, kemudian ia akan menerima ganjaran karena perbuatannya. Lebih lanjut, Rahman menyebutkan bahwa pada umumnya manusia sangat tertarik pada kepentingan-kepentingan yang bersifat langsung (pragmatis terutama kepentingan-kepentingan untuk dirinya sendiri yang dangkal dan bersifat materi, sehingga ia tidak menghiraukan akhir kehidupan ini. Akibatnya manusia sering sekali melanggar norma-norma dan hukum moral.[ Fazlur Rahman, Major Themes Of The Qur’an, terj. Anas Wahyudin, Tema-Pokok Al-Qur’an, (Bandung, Pustaka: 1996), hlm. 154.
]
1. Kematian
Realitas kematian adalah kepastian, yang tidak dapat ditolak, setiap orang pasti akan mengalami kematian, suka atau tidak suka, dan dalam konsep filsafat Islam kematian adalah awal kehidupan, kematian di dunia menjadi awal kehidupan di akhirat. Akan tetapi, pengetahuan dan pengalaman tentang mati masih saja dipenuhi misteri. Ada dua konsep tentang kematian yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran eskatologi, yaitu konsep pertama yang berpandangan bahwa kematian adalah “netral” (neutral death) yaitu tidak ada siksaan maupun kenikmatan setelah kematian, pandangan ini berkembang di Persia kuno. Sedangkan konsep kedua menyatakan bahwa kematian adalah bermoral (moral death), yang akan dinilai menurut standar kriteria tertentu apakah mendapat siksa atau mendapat nikmat, pandangan ini muncul di Mesir dan kemudian berkembang di Yunani.
2. Alam Kubur
Alam kubur bukanlah semata-mata kuburan tetapi alam yang dimasuki oleh setiap orang yang telah mengakhiri kehidupan di dunia. Jadi kuburan tidak berarti wujud lubang di dalam tanah, tetapi lebih dari itu kuburan adalah alam yang dimasuki oleh orang yang telah meninggal kapan saja dan dimana saja. Secara lebih spesifik alam kubur dinamakan juga alam barzakh. Barzakh artinya batasan yang mendindingi dunia dan akhirat. Orang yang telah mati berarti ia berada di ruang tunggu menuju akhirat.
3. Hari Kiamat dan kebangkitan
Dalam wacana keagamaan, hari kiamat adalah hari kebangkitan dari kehancuran, yaitu dibangkitkannya manusia setelah terjadinya kehancuran total. Setelah kehancuran total tersebut, akan ditegakkan suatu pengadilan yang dijamin oleh Tuhan, karenanya manusia dibangkitkan kembali untuk menghadapi pengadilan itu. Disamping menggunakan istilah hari kiamat ( al-yawm al-akhir), Al-Qur’an juga menggunakan istilah-istilah atau namanama lain, yang masing- masing mengacu kepada peristiwa, keadaan atau situasi yang akan dialami oleh umat manusia dalam proses menuju kehidupan yang abadi. Nama-nama lain yang senada dengan hari kiamat adalah:
a. As-Sâ’ah artinya waktu atau masa
b. Al-Âkhirah artinya hari akhirat
c. Al-Âzifah artinya peristiwa dahsyat
d. At-Tâmmah artinya malapetaka hebat
e. As-Sâkhah artinya tiupan sangkakala kedua
f. Al-Gâsyiyah artinya kejadian yang menyelebungi
g. Al-Wâqi’ah artinya peristiwa menggemparkan
h. Yawm al-Fasl artinya hari keputusan
i. Yawm at-Tanâd artinya hari panggil memanggil
j. Yawm al-Hasrah artinya hari penyesalan
k. Yawm al-Khurûj hari eksodus
l. Yawm al-Khulûd artinya hari keabadian
m. Yawm at-Tagâbun artinya hari ditampakan segala kesalahan
n. Yawm al-Jam’i artinya hari berkumpul
o. Yawm at-Talâq artinya hari pertemuan
p. Yawm al-Fath artinya hari kemenangan
q. Yawm ad-Dîn artinya hari agama
r. Yawm al-Hisâb artinya hari perhitungan
s. Yawm al-Ba’s artinya hari berbangkit
t. Yawm al-Qiyâmah artinya hari kiamat.21
Ada pun mengenai kebangkitan kembali, filsafat Islam menawarkan pendekatan nafs, untuk dapat memahaminya. Seperti yang dikenalkan Ibn Sînâ untuk membuktikan adanya nafs, yaitu dengan adanya alam mimpi atau pengandaian orang bisa terbang. Teori Ibn Sînâ ini bias dikembangkan lebih lanjut untuk memahami adanya kebangkitan kembali dengan melihat aspek transendentalnya nafs. Transendensi nafs menjadikan kebangkitan itu pasti adanya dan dapat terjadi pada tahapan manusia sebagai nafs, karena nafs itu sendiri yang berbuat dan yang akan mempertanggung jawabkan amalnya di hadapan Tuhan. Kepastian adanya kebangkitan pada hakekatnya merupakan tuntutan hokum moral, untuk menuntaskan perbuatan jelek manusia yang tak terselesaikan dalam pengadilan di dunia, yang dalam banyak hal sering kali dimanipulasi, direkayasa dan tidak mencerminkan adanya keadilan yang benar-benar adil, sehingga adanya hari kebangkitan dan pengadilan Tuhan yang dijamin
Tuhan sendiri akan keadilannya, pada hakekatnya merupakan rahmat dan anugrah Tuhan kepada manusia, terutama yang merasakan ketidakadilan dalam kehidupan di dunia.
Dalam persoalan kebangkitan, menurut Ahmad Syams ad-Din, pandangan manusia terbagi menjadi lima kelompok yakni:
1. Sebagian kecil kaum teolog mengatakan bahwa kebangkitan hanya jasmani saja.
2. Sebagian besar kaum filosof ketuhanan mengatakan bahwa kebangkitan hanya jiwa saja.
3. Hampir semua kaum muslimin, termasuk al-Gazâlî mengatakan bahwa kebangkitan adalah jiwa dan jasad sekaligus.
4. Para filosof mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan di akhirat baik jasmani mau pun jiwa.
5. Galenus berpendapat bahwa kita tidak bias menentukan mana yang benar dari pendapat di atas. Karenanya diamenganjurkan untuk bersikap pasif dan tidak membahas persoalan ini panjang lebar.
Eskatologi dalam filsafat Islam telah menjadi bahasan yang sangat menarik pada awal perkembangan keilmuan dalam dunia Islam. Namun demikian respons pemikir Islam modern terhadap masalah eskatologi Islam tidak begitu intens seperti halnya pendahulu mereka. Pemikir Islam modern tidak membahas permasalahan eskatologi karena menurut mereka hal tersebut terlalu sulit untuk dirasionalisasikan.23 Sehingga pembahasan mereka tentang permasalahan eskatologi pada umumnya hanya merupakan pengembangan, penekanan dan pembaharuan terhadap pemikiran sebelumnya.